Kalkulator KPR Berjenjang
= 240 Bulan
Detail Tahapan Bunga
Ringkasan Cicilan
Ringkasan Total Biaya
*Angka ini adalah estimasi total uang yang Anda keluarkan sampai lunas.
Detail Jadwal Angsuran
| Bln | Cicilan | Bunga | Pokok | Sisa |
|---|
Memilih KPR (Kredit Pemilikan Rumah) itu mirip seperti memilih jodoh; harus cocok dengan kondisi kita saat ini dan masa depan. Banyak orang terjebak memilih KPR hanya karena tergiur cicilan awal yang murah, padahal di belakangnya ada risiko bunga yang melonjak.
Supaya kamu nggak salah pilih, yuk kenali perbedaan KPR Berjenjang, Floating Rate, dan Fixed Rate, serta cara simulasi cicilannya.
1. KPR Berjenjang (Step-Up Mortgage)
“Cocok buat anak muda yang gajinya bakal naik terus.”
Apa itu?
Sesuai namanya, cicilan ini seperti anak tangga. Di tahun-tahun awal, cicilanmu dibuat murah dan ringan. Namun, setelah periode tertentu (misalnya 3 atau 5 tahun), cicilanmu akan naik secara otomatis ke angka yang lebih besar.
Bank membuat skema ini karena berasumsi karier dan gajimu akan meningkat seiring waktu.
Kenapa Pilih Ini? (Keuntungan)
Awal yang Ringan: Sangat membantu pasangan muda yang butuh dana sisa untuk beli perabotan atau renovasi di awal huni.
Bisa Beli Rumah Lebih Bagus: Karena cicilan awal rendah, bank mungkin mengizinkanmu mengambil rumah dengan harga yang sedikit lebih mahal.
Apa Risikonya? (Kerugian)
Beban di Masa Depan: Jika ternyata gajimu tidak naik sesuai harapan, kamu akan kesulitan saat cicilan KPR-nya naik.
Total Bayar Lebih Mahal: Kalau dihitung sampai lunas, total uang yang kamu setor ke bank biasanya lebih besar dibanding skema biasa.
2. KPR Floating Rate (Bunga Mengambang)
“Siap dengan kejutan pasar? Cicilan bisa turun, tapi bisa juga melonjak.”
Apa itu?
Bunga KPR-mu akan berubah-ubah mengikuti kondisi ekonomi dan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Kalau ekonomi bagus dan bunga BI turun, cicilanmu ikut turun.
Kalau ekonomi sedang krisis dan bunga BI naik, cicilanmu ikut naik.
Catatan: Kebanyakan KPR di Indonesia pakai sistem gabungan (Hybrid). Biasanya 1-3 tahun pertama bunganya Tetap (Fixed) karena promo, baru setelah itu masuk ke Floating mengikuti pasar.
Kenapa Pilih Ini? (Keuntungan)
Ada Potensi Murah: Saat ekonomi stabil, bunganya bisa jadi jauh lebih rendah daripada bunga fixed rate.
Fleksibel: Biasanya dendanya lebih kecil kalau kamu mau melunasi utang lebih cepat.
Apa Risikonya? (Kerugian)
Ketidakpastian (Senam Jantung): Kamu tidak pernah tahu pasti berapa cicilanmu bulan depan atau tahun depan.
Risiko Cicilan Meledak: Jika terjadi krisis ekonomi, bunga bisa naik tajam. Kenaikan bunga 2-3% saja bisa membuat cicilanmu bertambah jutaan rupiah per bulan.
3. KPR Fixed Rate Sampai Lunas
“Anti ribet, anti kaget. Cicilan sama terus sampai selesai.”
Apa itu?
Ini adalah kebalikan dari floating. Bank menjamin jumlah cicilan bulananmu TETAP SAMA (flat) dari bulan pertama sampai lunas (misal selama 15 tahun), tidak peduli ekonomi negara sedang hancur atau meroket.
Kenapa Pilih Ini? (Keuntungan)
Tidur Nyenyak: Nggak perlu pusing mikirin berita ekonomi atau kenaikan suku bunga.
Gampang Atur Gaji: Karena cicilannya pasti segitu, kamu mudah mengatur anggaran belanja bulanan.
Apa Risikonya? (Kerugian)
Cicilan Awal Terasa Mahal: Bunga fixed biasanya dipatok lebih tinggi dibanding bunga promo. Kamu membayar "harga mahal" demi sebuah kepastian.
Rugi Kalau Bunga Pasar Turun: Jika suatu saat bunga bank umum turun drastis jadi 5%, kamu tetap harus bayar bunga tinggi (misal 8-9%) sesuai perjanjian awal.
Ringkasan Cepat: Mana yang Cocok Buat Kamu?
| Jenis KPR | Pola Cicilan | Cocok Untuk Siapa? |
| Berjenjang | Awal murah, lama-lama naik | Profesional muda yang yakin kariernya menanjak (promosi/naik gaji). |
| Floating Rate | Naik-turun ikut pasar | Orang yang paham ekonomi & punya dana darurat kuat (siap jika cicilan naik). |
| Fixed Rate | Datar/Tetap sampai lunas | Orang yang suka kepastian, cari aman, dan tidak suka risiko. |
Cara Mencoba Simulasi KPR Sendiri
Sebelum pergi ke bank, ada baiknya kamu coba hitung-hitungan sendiri pakai Kalkulator KPR (banyak tersedia gratis di internet/aplikasi properti). Tujuannya biar kamu punya gambaran kasar: "Gajiku cukup nggak ya?"
Data yang Perlu Kamu Masukkan:
Harga Properti: Harga rumah yang mau dibeli.
Uang Muka (DP): Uang tunai yang kamu bayar di awal (misal 20% dari harga rumah). Sisa harganya adalah jumlah utangmu ke bank (Plafon).
Bunga (Interest Rate): Masukkan angka persen bunga bank.
Tips: Cek website bank untuk lihat bunga promo terbaru.
Tenor (Jangka Waktu): Mau dicicil berapa lama? (10, 15, atau 20 tahun).
Peringatan Penting (Jangan Sampai Terkecoh!)
Angka yang muncul di kalkulator hanyalah estimasi cicilan utang pokok + bunga. Ingat, realitanya kamu butuh uang lebih banyak karena:
Biaya Awal itu Besar: Kalkulator sering lupa menghitung biaya "printilan" yang jumlahnya puluhan juta, seperti: Biaya Notaris, Pajak Pembeli (BPHTB), Asuransi Jiwa & Kebakaran, serta Biaya Admin Bank.
Jebakan Bunga Promo: Kalau kalkulator bilang cicilanmu Rp3 Juta (pakai bunga promo 5%), ingatlah itu cuma bertahan 1-3 tahun. Di tahun ke-4 saat bunga jadi normal (misal 11%), cicilanmu bisa melonjak jadi Rp4,5 Juta.
Tips Terakhir:
Gunakan simulasi diatas, pastikan kamu sudah mengetahui biaya biaya yang timbul dan pastikan juga mengetahui biaya tersebut dibayar dimuka atau masuk ke dalam cicilanmu (plafon) sehingga dirimu dapat mensimulasikan dengan tepat akurat bila kamu sudah mengetahuinya di awal dan dimasukan dalam simulasi diatas. Saran juga dari aku jangan mepetkan cicilan 30% dari gajimu berdasarkan bunga promo yang murah, berikan ruang nafas untuk kenaikan cicilan di masa depan.
